Setumpuk rindu yang himpun
Berserak terurai saat kau ucapkan
kata “halo” di pesawat telepon itu

Ocehanmu dulu yang memaki berubah menjadi penyesalan karena perpisahan
Terdengar suaramu yang gemetar, bukan gemetar ketakutan melainkan gemetar
karena tak sanggup membendung kerinduan untuk mengucapkan satu patah
kata yang lama kau pendam.

Aku tahu di setiap do’amu ada namaku
Dan di setiap langkahku ada wajahmu
Seperti sebuah lukisan yang tak indah tanpa seniman

Aku anugrahi ketabahanmu
Dengan bingkisan metahari yang ku tata rapi
Akan ku beli semua mimpi yang kau titipkan da hari pertemuan kita nanti

Iklan